Cerpen
MANG SODIK
Oleh Ena Rs.
TAK penah kulihat orang yang wajahnya selalu memancarkan semangat selain Mang Sodik. Tak pernah. Bahkan ketika ia sepertinya lelah, semangat itu tetap ada. Tak pernah padam. Tak pernah kulihat ada muram di wajah tirus itu. Kadang aku bertanya sendiri, terbuat dari apa hati Mang Sodik ini sehingga pada ekspresi wajahnya yang ada hanya semangat, semangat dan semangat. Seolah dunia ini selalu menyenangkan dan menggairahkan baginya. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya tukang bubur ayam yang mendorong gerobak mengelilingi komplek perumahan setiap pagi. Ah, aku tak habis pikir.
Suara detingan mangkok yang ia pukul pun mengambarkan semangatnya. Ting, ting, ting... ting, ting, ting.. ritmenya khas dan segeralah orang di komplek perumahan tahu, Mang Sodik datang menjajakan bubur ayamnya. Ibu-ibu yang malas memasak pagi-pagi, segera menghambur keluar, mencegatnya.
“Mang Sodiiiikkkkk, buburrrr!”
“Iya, Buuu. Berapa mangkok?” Sahut Mang Sodik sambil menghampiri pembelinya. Suara kreot-kreot roda gerobag yang jarang diberi oli terdengar, nah, ikut bersemangat pula, semakin cepat.
“Dua mangkok saja, Mang...”
“Satu gerobak pun boleh, Bu..he he he... Ah, maap Bu, bercanda...”
Si pembeli pun ikut tertawa.
“Kasihan yang lain atuh Mang, kalau satu gerobak saya beli semua.”
“Iya, ya, Bu. Yang lain pun selalu rindu bubur ayam Mamang tiap pagi. Ge-er saya he he he...!”
Biasanya ia terus bertanya.
“Pake kacang, Bu?”
“Sedikit saja, Mang.”
“Pedesnya?”
“Satu pedes, satu jangan...”
Pun bila pembelinya meminta ditambah ini itu.
“Ayamnya tambah lagi, Mang.”
“Boleh, Bu, tenang saja.”
“Kacangnya yang banyak, Mang.”
“Siap, Bu.”
Dan lain-lain. Ia selalu melayani pembelinya dengan semangat dan keramahannya. Tak pernah ia menolak permintaan pembelinya. Betul-betul ia menerapkan filosopi “pembeli adalah raja”. Dan ia adalah hambanya. Rasa buburnya yang khas, kental tidak cair seperti kebanyakan tukang bubur ayam. Pernah aku iseng membalikan mangkok yang berisi bubur Mang Sodik, ajaib bubur itu tidak jatuh, tetap menempel pada mangkoknya. Saking kentalnya. Kupikir daging ayamnya pun ayam kampung, bukan ayam sayur.
Setelah melayani satu pembeli, ia bergerak lagi. Mencari pembeli yang lainnya. Ting, ting, ting... ting, ting, ting. Kreot, kreot, kreot... Ia tak pernah berteriak menjajakan bubur ayamnya. Cukup dengan suara mangkok yang dipukul dan suara roda gerobaknya. Orang sudah tahu.
Gerobaknya sudah agak kusam , tapi selalu bersih. Pada kaca gerobaknya tertulis “Bubur Aya Mang Sodik, Raos Pisan”. Dulu memang tulisannya lengkap “Bubur Ayam...” Rupanya hurup “m”-nya terlepas dan tak pernah diganti lagi. Pernah aku mengomentari tulisan itu.
“Hurup “m”-nya ke mana, Mang?” Tanyaku.
“Oh, itu lepas, Pak, enggak tahu di mana. Tadinya “Ayam” tahu-tahu jadi “Aya”...he he he...” Mang Sodik geli sendiri.
“Kok tidak diganti?”
“Biar saja, Pak, kan malah jadi ciri khas. Lagi pula mau “Ayam” mau “Aya” semua orang tahu saya hanya jualan bubur ayam, bukan yang lain he he he.. “
Aku tersenyum. Iya juga, sih.
Belakangan hurup “S”-nya pun hilang. Sekarang terbaca “Bubur Aya Mang Odik”. Aku tak pernah komentar lagi. Lagi pula antara “Sodik” dan “Odik” pun mirip. Kalau saja ditanya, mungkin ia akan menjawab begini: “Engga tahu lepas di mana, Pak. Tahu-tahu jadi “Odik”. Mau “Sodik” mau “Odik” kalau mendorong gerobag ini kan orangnya ini-ini juga, bukan yang lain he he he...”
Kalau komplek perumahan sudah ia dikelilingi, biasanya ia mangkal di depan sekolah tempatku mengajar. Itu pun bila belum habis. Dan tak pernah ada sisa kalau mangkalnya di sana. Sebenarnya ia bisa saja langsung mangkal di depan sekolah, tak usah keliling komplek perumahan dulu. Tapi ia selalu menjalani rutinitas seperti itu. Lagi pula memang ibu-ibu yang malas memasak selalu menunggunya.
Mang Sodik tak pernah libur. Hari Minggu sekalipun ia tetap berdagang bubur ayam. Berkeliling komplek perumahan. Bedanya, terakhir ia akan mangkal dekat taman di mana orang-orang banyak yang lari pagi di sana.
Pernah satu kali aku membeli bubur ayamnya di taman selepas lari pagi. Kebetulan aku menjadi pembeli terakhir. Buburnya hanya cukup untuk satu mangkok lagi. Sambil makan aku memperhatikan Mang Sodik membereskan uang hasil jualannya.
“Alhamdulillah...” Kudengar ia berguman. Lalu ia membagi uangnya menjadi tiga bagian.
Aku tergoda untuk bertanya.
“Dibagi tiga begitu, Mang?”
“Iya, Pa. Yang ini modal...” Ia memperlihatkan uang yang paling banyak. “Yang ini buat resiko dapur he he he...” Ia memperlihatkan uang yang agak sedikit. “Nah, yang ini buat nabung...” Ia memperlihatkan uang yang terahir. Kira-kira sama dengan bagian untuk resiko dapur.
“Suka nabung juga, Mang?”
“Yah, alhamdulillah, Pak. Tapi cara Mamang begini, disisakan sejak awal buat nabung. Kalau nunggu sisa belanja kebutuhan malah tidak pernah ada sisanya... Yah, sedikit-sedikit Pak, siapa tahu bisa cukup untuk ongkos naik haji he he he...” Tawanya sungguh berderai.
“Kalau Mamang berniat, apapun bisa... Tidak ada yang mustahil kalau dilakukan sungguh-sungguh...” Kataku serius. Aku tak menganggap kata-kata Mang Sodik tadi sebagai gurauan. Mungkin ia memang berniat naik haji. Siapa tahu. “Saya doakan, Mang, semoga Mamang bisa naik haji...”
“Amien.”
Sebenarnya saat itu sempat aku tercenung. Orang kecil seperti Mang Sodik kadang-kadang melakukan hal yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang. Soal menabung itu misalnya, aku sendiri selalu punya niat untuk menabung. Tapi tak pernah terlaksana. Aku tak mampu menyisihkan uang untuk menabung tiap bulan. Semua habis tersedot kebutuhan sehari-hari. Kadang-kadang malah minus. Menabung jadi angan-angan: andai nanti gaji ke-13 datang akan aku tabung sebagian, begitu selalu kuniatkan. Tapi kenyataannya, begitu gaji ke-13 datang, kebutuhan pun datang merongrong. Semua habis, tak tersisa untuk menabung. Orang seperti Mang Sodik menurutku luar biasa. Meskipun penghasilannya kecil, ternyata ia bisa. Ya, mungkin menabung itu bukan soal banyak sedikitnya uang yang dimiliki, tapi pada kekuatan niat untuk menyisihkan sebagian uang itu.
Mang Sodik terus menjalani rutinitasnya, menjadi bagian kehidupan di komplek perumahan ini. Setiap pagi ia muncul mendorong gerobak bubur ayamnya. Agaknya, tidak seorang pun di sini yang tidak pernah merasakan enaknya bubur ayam Mang Sodik.
Ada dibutuhkan. Tidak ada, kehilangan. Orang bertanya-tanya. Sekali-sekali, mungkin karena sakit atau ada keperluan mendadak, Mang Sodik kadang-kadang tidak muncul.
***
LIMA taun aku pindah tempat kerja. Selama itu aku tidak pernah bertemu dengan Mang Sodik. Kalau bukan karena mantan Kepala Sekolahku hajatan, mungkin aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan Mang Sodik.
Mengenakan batik pekalongan, aku pangling melihatnya. Wajahnya kelihatan berisi, tidak tirus lagi. Ah, wajah yang tetap memancarkan semangat dan keramahan. Masih seperti dulu. Ia yang pertama kali menyapaku.
“Masya Allah, ini Pak Nana?” Tanya. Ia menjabat tanganku dengan erat.
“Iya, Mang, masih ingat rupanya...” jawabku sambil tersenyum.
“Ya, masih ingat, gimana Pa Nana ini... Masa sama bekas pelanggan lupa..he he he...” Tawanya pun masih seperti dulu. Berderai-derai. “Mengajar di mana sekarang?”
“Jauh, Mang, di peloksok...”
“Sudah jadi kepala sekolah?”
Aku tersenyum, mengangguk.
“Alhamdulillah, Allah Maha Kuasa...”
“Masih jualan bubur ayam, Mang?”
“Masih, Pa, masih. Lha, kalau tidak jualan bubur ayam keluarga saya makan apa he he he... Tapi sekarang sudah tidak pake gerobak lagi. Mamang sudah tua...he he he...”
“Oh, buka kios?”
“Tidak juga. Sekarang pakai mobil...”
“Alhamdulillah. Allah Maha Kuasa...” Aku latah mengucapkan kata yang tadi diucapkan Mang Sodik, sekaligus terkejut. Luar biasa dari seorang tukang bubur ayam yang memakai gerobak, sekarang sudah memakai mobil. Luar biasa.
Mang Sodik tertawa.
“Yah, hasil menabung sedikit-sedikit, Pak..”
Seorang ibu yang lewat menyapa.
“Eh, Pak Haji, sama ibu?” Tanyanya.
“Enggak, sendiri saja. Ibu sama siapa?”
“Tuh!” Katanya sambil menunjuk seorang lelaki yang menuntun anak kecil. Pasti suaminya. “Mari Pak Haji, saya duluan...”
“Iya, Bu, silahkan...”
Pak Haji?
“Sekarang Mamang sudah haji?” Tanyaku. Luar biasa lagi. Lima tahun tidak bertemu Mang Sodik sudah membuat loncatan hidup yang tak pernah kubayangkan. Menjajakan bubur ayam dengan mobil. Inovasi baru itu. Lalu sekarang sudah jadi Haji pula.
Mang Sodik tersipu-sipu.
“Alhamdulillah. Allah Maha Kuasa...” Lagi-lagi aku latah. Lalu aku tersadar. “Aduh, maap, seharusnya saya tidak memanggil Mamang lagi. Pak Haji, ya sekarang Pa Haji...”
“Ah, jangan, jangan. Sebenarnya saya lebih suka dipanggil Mamang saja, tidak usah Pak atau Bapak. Apalagi pakai embel-embel Haji. Saya malah malu. Tapi ya gimana, saya tidak bisa melarang mereka memanggil begitu...” Kata Mang Sodik.
“Tulisannya masih “Bubur Aya”?”
Mang Sodik tertawa berderai-derai.
“Ya, ya, ya, masih begitu, Pak. Tapi sekarang bukan terlepas, malah disengaja biar jadi ciri khas Mamang he he he...”
Lalu kami pun berpisah. Selama perjalanan pulang, tiba-tiba aku merasa malu sendiri dengan Mang Sodik. Ia yang tukang bubur ayam, sudah bisa naik haji, sudah bisa punya mobil. Aku yang selalu dipanggil dengan sebutan Pak, Bapak, oleh setiap orang dengan rasa hormat, tak bisa seperti Mang Sodik. Mobil aku belum mampu beli. Apalagi naik haji, entah kapan. Jadi Kepala Sekolah pun mesti sogok sana, sogok sini. Ah, aku benar-benar malu.***
Rancah, Juni 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar