Kamis, 09 Juni 2011


CERPEN



SEPEDA MOTOR
Oleh Ena Rs.


NGERI. Ya, seperti itulah perasaanku setiap kali melihat anak-anak kecil mengendarai sepeda motor, melintasi jalan-jalan kampung. Sendiri-sendiri atau berombongan. Tak jarang mereka anak-anak baru kelas dua atau tiga SD. Sekecil itu sudah diberi kebebasan oleh orang tuanya untuk mengendarai sepeda motor. Aku tak tahu apa yang terlintas di pikiran orang tua mereka. Aku tak tahu jalan pikiran mereka. Mengapa mereka begitu mudah memberikan  sepeda motor pada anak-anaknya? Padahal resikonya,  ah, aku tak mau membayangkan.
“Sekarang memang jamannya sudah begitu,” kata istriku ketika satu ketika aku membicarakan kengerian itu. “Mau apa? Lihat saja Si Dimas, sebentar lagi dia minta sepeda motor... Siap-siap saja!”
Tambah ngeri. Dimas adalah anakku. Dia baru kelas empat SD. Tapi dari sorot matanya setiap kali melihat anak-anak kecil itu melintas dengan sepeda motornya, aku tahu dia pun amat berkeinginan. Apalagi ada diantara mereka adalah teman sekelasnya. Bahkan adik kelasnya yang lebih kecil. Tapi aku bertekad takan mengijinkannya sebelum dia besar. Setidaknya sampai dia masuk SMP.  Atau paling cepat sampai dia kelas enam.
Tapi istriku tertawa mengejek.
“Apa Akang bakal bisa?”
“Bisa, kenapa tidak? Tidak memberikan sepeda motor pada Si Dimas lebih gampang dari pada memberikan...” kataku sengit.
“Yakin?” Istriku sekarang tersenyum. Tapi tetap dengan mengejek.
“Ya.”
“Memangnya tidak kasihan lihat anak orang lain bawa motor, sementara anak kita cuma jadi penonton?”
“Bukan soal kasihan. Ini soal sayang pada anak..”
“Ya, kalau sayang kasih dong Si Dimas sepeda motor...”
“Ah, kita memandang rasa sayang dari sudut yang berbeda. Kalau aku tidak membelikan motor untuk Si Dimas, itu karena aku sayang....”
”Sayang kok begitu?”
”Sudahlah, toh Si Dimasnya juga tidak ngomong ingin dibelikan motor... Kalau aku belikan, aku takut Si Dimas celaka. Aku takut Si Dimas belagu, banyak gaya... Lihat saja anak-anak yang sudah bawa sepeda motor itu?”
“Kalau ternyata dia ngomong, minta dibelikan sepeda motor?” Istriku ngeyel.
“Aku takan mengabulkannya...” Kataku keras sambil berlalu. Setidaknya untuk saat ini. Aku tak ingin pembicaraan itu lama-lama jadi pertengkaran. Habis, antara kasihan dan sayang itu tipis batasnya sih. Kudengar istriku menarik napas dalam. Mungkin dia kecewa dengan sikapku. Biar saja, toh bukan karena aku tak punya uang untuk beli motor Si Dimas. Aku cuma ngeri anak sekecil Si Dimas dengan tinggi badan belum satu meter itu mengendarai motor. Dalam bayanganku, bukan Si Dimas yang bawa motor, tapi motor yang membawa Si Dimas.
Lihat saja anak-anak kecil yang sudah dikasih sepeda motor, kerjanya cuma jalan-jalan. Main sana-sini. Waktunya ke madrasah malah bolos. Jangan tanya soal membantu orang tua, kebiasaan yang dulu sering aku lakukan ketika kecil. Anak sekarang ini bukannya tunduk pada orang tua, malah sebaliknya: orang tua yang tunduk pada anak. Aku tidak mau begitu. Apa gunanya anak-anak itu diberi sepeda motor. Menghambur-hamburkan bensin, menghambur-hamburkan waktu tak tentu saja. Dan aku punya sederet alasan yang kusimpan dalam pikiranku. Sewaktu-waktu akan aku bacakan pada istriku kalau dia tetap ngeyel.
 Dan syukur Si Dimas belum meminta aku membelikan sepeda motor. Tepatnya mungkin belum berani. Mungkin juga istriku sukses memberi pengertian, belum saatnya dia punya sepeda motor. Tapi memang aku sudah bersiap-siap. Tabunganku sudah cukup untuk membeli sebuah sepeda motor. Sebab saatnya Si Dimas merengek ingin sepeda motor pasti akan datang. Tapi tak tahu kapan persisnya.
Ketika saat itu tiba aku masih mencoba berkelit. Kurasa belum tepat, masih terlalu cepat. Si Dimas merenget minta dibelikan sepeda motor. Aku tahu ibunya berada di belakangnya. Dia terus mendesak.
“Nanti kalau naik ke kelas lima Ayah belikan,” kataku akhirnya. Jelas sebenarnya aku masih mengulur waktu.
Mata Si Dimas berbinar.
“Betul, Pa?”
“Ya.”
“Janji?”
“Janji!”
Si Dimas melompat-lompat. Seluruh kegembiraan ia tumpahkan saat itu. Sampai rambutnya kelihatan berdiri. Mukanya penuh cahaya. Dia memeluk aku. Lalu pindah memeluk ibunya. Lalu berlari ke rumah neneknya, di samping rumahku. Kudengar dia bercerita dengan semangatnya, “Nek, sebentar lagi aku dibelikan sepeda motor oleh ayah... Sebentar lagi aku punya sepeda motor...”
“Kapan dibelikannya?” Tanya neneknya.
“Nanti kalau naik kelas lima..”
“Tinggal tiga bulan lagi, dong..”
“Iya, Nek!”
Aku terkejut juga mendengarnya. Ya, kenaikan kelas kan tiga bulan lagi. Bodoh. Perasaanku tadi masih lama, mungkin setengah tahun lagi. Benar-benar lupa. Ada sedikit penyesalan mengapa aku ceroboh memberi janji. Tapi lihat saja, masih bisa kuakali.
Kenaikan kelas tiba. Si Dimas sekarang sudah kelas lima. Dia segera menyerbuku.
“Hayo, Ayah, kapan beli sepeda motor? Aku sudah kelas lima. Ayah kan sudah janji!”
“Ya, nanti...”Kataku mencoba berkelit lagi.
“Nanti kapan?” Mulai ada nada kemarahan dalam suaranya.
“Ya, nanti, nanti.... Sabar sedikit kenapa sih?” Aku mulai jengkel.
“Iya, tapi ayah harus pasti!”
“Pasti, pasti.. Pasti ayah belikan.....” Tapi nanti kalau sudah kelas enam, tambahku dalam hati. “Sabar saja, ayah tunggu uangnya, belum cukup sedikit lagi..” dibumbui pula dengan berdusta.
“Awas kalau ayah berbohong!” Si Dimas mulai mengancam.
“Iya, iya!”
Setelah itu aku mulai tanya-tanya soal harga sepeda motor baru. Tapi aku juga masih berkelit. Siapa tahu Si Dimas masih mau bersabar sampai kelas enam nanti. Satu tahun lagi, kurasa sudah tidak terlalu beresiko dia punya sepeda motor.
Satu bulan, dua bulan Si Dimas masih bisa kukendalikan. Dia masih mau mengerti. Yang tidak mau mengerti justru istriku.
“Tidak baik lho, Yah, membodohi anak terus...” katanya menyindir.
“Bukan membodohi, Mah... Tapi aku belum merasa sreg waktunya. Kalau sudah kelas enam sih enggak apa-apa...” Jawabku sabar.
“Jadi masih mau menunda satu tahun lagi?” Mata istriku terbelalak.
“Iya.. “ Jawabku. Kalau bisa...
“Aku tak mengerti dengan jalan pikiran ayah. Apa sih yang sebenarnya ditakutkan? Lihat anak-anak tetangga yang sudah dibelikan sepeda motor itu? Apa ada yang celaka? Tidak, kan? Sedikit jatuh, wajar. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun ada yang jatuh. Anak sekarang sudah pintar-pintar. Meskipun badannya kecil-kecil mereka cepat pandai membawa sepeda motor. Mereka tidak bodoh. Anak kita juga. Kasihan, Yah, kasihan. Aku selalu ngenes bila melihat teman-temannya bawa sepeda motor sementara dia jalan kaki. Apa ayah tidak punya perasaan seperti itu. Apa ayah tega melihat anak kita jadi penonton padahal sebenarnya kita mampuh membelikan?  Terlalu!” Istriku menumpahkan ketidakmengertiannya seperti guyuran hujan deras.
Aku diam. Aku tak mau terjadi pertengkaran. Aku cerna kata-katanya. Ada betulnya juga. Kasihan Si Dimas. Aku harus mengalah pada jaman. Hatiku pelan-pelan meleleh.
“Besok aku ke Banjar...” kataku ahirnya.
“Ngapain?”
“Ya, beli sepeda motor buat Si Dimas... Aku mau beli yang baru...”
“Awas kalau berbohong lagi...” Istriku ikut-ikutan mengancam.
Tapi sore harinya sebuah kejadian membuat geger kampungku. Di dekat hutan jati, Si Dadang anak tetanggaku, sepeda motornya dirampas orang tak dikenal. Untung anaknya selamat. Cuma sepeda motornya dibawa kabur, entah kemana. Sebuah sepeda motor baru melayang.
Kontan saja niatku membeli motor untuk Si Dimas mengkerut lagi. Malah aku merasa mempunyai tenaga baru untuk memberi alasan pada Si Dimas dan istriku.
“Nah, apa aku bilang, begitu kalau anak kecil sudah diberi sepeda motor... masih untung cuma sepeda motor yang dirampas, gimana kalau Si Dadangnya yang digima-gimanain?” Kataku gagah.
“Digimana-gimanain gimana?” Kening istriku berlipat.
“Dibunuh misalnya... dicelakain...”
“Ah.. kan itu tidak? Lagi pula kasusnya cuma satu orang diantara sekian ratus anak yang punya motor...”
“Tapi tidak mustahil terjadi juga pada anak kita!”
“Tidak mungkin!”
“Mungkin saja. Siapa yang bisa menjamin tidak terjadi pada Si Dimas?”
Mendengar aku dan istriku beradu argumen, Si Dimas bangkit. Dengan mata menyala penuh kemarahan dia berteriak padaku, “Ayah banyak alasan! Ayah pembohong!” Cuma dua kalimat yang dikatakannya. Tapi serasa menghantam ulu hatiku dengan keras. Lalu ia berlari ke kamarnya. Mengunci pintu dan tak keluar-luar lagi sampai pagi.
Besoknya Si Dimas mogok sekolah. Besoknya lagi masih mogok. Dia tidak mau sekolah sampai sepeda motor yang kujanjikan ada di depan matanya. Dia bersikeras. Bujukan apapun sudah tak mempan lagi. Sampai satu minggu dia bolos sekolah. Ahirnya hatiku kembali meleleh. Tapi aku mau kompromi. Aku takut kejadian pada Si Dadang menimpa anakku.
“Baiklah, Ayah akan membelikan sepeda motor buat kamu,” kataku.
Si Dimas masih diam. Wajahnya menunduk,  muram. Rupanya dia tak lagi mempercayai aku.
“Tapi dengan satu syarat...”
Si Dimas mengangkat wajahnya. Menatapku sekilas. Minatnya mulai bangkit lagi.
“Sekarang kita beli sepeda motor yang bekas saja. Nanti yang baru kalau kamu lulus SD. Gimana?”
Wajahnya menunduk lagi. Dia nampak berpikir. Sementara itu aku menasehatinya. Kuceritakan kejadian Si Dadang yang dirampas sepeda motornya. Mungkin penjahat itu melihat karena sepeda motornya yang masih baru, yang nilai jualnya masih lumayan. Kalau sepeda motor bekas tidak terlalu beresiko diincar penjahat. Biar aman, baiknya beli yang bekas saja, begitu kataku membujuknya.
Ahirnya Si Dimas memang setuju. Besoknya aku sudah mendapatkan sepeda motor bekas dengan harga empat juta. Dua hari kemudian Si Dimas sudah bisa membawa sepeda motor sendiri setelah kuajari. Benar kata istriku, anak-anak sekarang pandai-pandai. Dulu aku belajar naik sepeda motor sampai satu minggu, baru bisa.
Setelah punya sepeda motor Si Dimas jadi jarang di rumah. Pulang sekolah ia sudah kabur entah ke mana. Pengeluaran bertambah, selain uang jajan sekarang ditambah dengan uang bensin. Istriku jadi senewen. Si Dimas dimarahi kalau terlalu banyak minta jatah uang bensin.
“Sabar, Mah, sekarang sudah jamannya anak-anak bawa sepeda motor. Resikonya kan harus pake bensin. Mustahil sepeda motor bisa hidup kalau tidak pakai bensin,” kataku menyindir. Ada perasaan puas menyelinap dalam hatiku. Dan istriku cuma diam.
Satu sore, Pa Tarno tetanggaku datang tergopoh-gopoh ke rumahku.
“Anu, Pa...anu...” Katanya tergagap. Dia seperti bingung untuk berkata.
“Anu apa, Pa?” Tanyaku heran. Juga curiga.
“Anu...mmm...itu anak bapak terjatuh ke sungai...”
Deg! Astagfirulloh.
“Di sungai mana?”
“Sungai Cibuyut..”
Aku segera bergegas di ke sana. Tak sampai lima menit aku hampir sampai di sungai Cibuyut. Kulihat ada lima orang di dekat jembatan Aku berlari menghampirinya.
Di tanah, Si Dimas tergeletak, basah kuyup. Keningnya berdarah, luka. Dia merintih. Hatiku terenyuh. Aku berjongkok di sampingnya dan hendak mengangkatnya. Tapi Ki Darsa melarangku.
“Hati-hati Pa, ada tulang-tulang yang patah...” katanya sambil menunjuk beberapa titik di tubuh Si Dimas. Kaki, bahu, dan rusuk. “Sebaiknya langsung di bawa ke rumah sakit saja, Pa.”
“Ya, ya, tolong carikan mobil,” kataku sambil mengelus rambut Si Dimas. Dia tetap merintih. Matanya terpejam. “Sabar ya, nak, kita langsung ke rumah sakit. Tahan sebentar, tidak apa-apa, tenang, tenang... Ayah ada di sini...” Aku mencoba menghiburnya.
Beberapa orang segera bergegas mencarikan mobil. Sementara itu sepeda motor yang terjungkal di sungai diangkat beramai-ramai. Setelah di darat,  tahulah apa yang menyebabkan Si Dimas jatuh ke sungai. Nampak tuas rem sepeda motornya terlepas. Rem blong dan Si Dimas tak mampu mengendalikannya.
Sungai Cibuyut berada tepat di kaki tanjakan Singasari. Si Dimas rupanya menuruni jalan dan rem sepeda motornya blong. Kubayangkan Si Dimas meluncur cepat dari atas dan ahirnya tercebur ke sungai yang berbatu. Oh, anakku... Aku memejamkan mata.
Orang mulai ramai berdatangan. Berita Si Dimas jatuh ke sungai segera menyebar. Tak lama istriku datang. Begitu melihat keadaan anaknya dia menjerit histeris. Kucegah dia ketika hendak memeluk Si Dimas. Dia berbalik ke arahku. Matanya membara penuh kemarahan dan kebencian. Seketika tangannya memukuli dadaku.
“Kau ayah yang kejam! Kau ayah yang pelit! Tidak sayang pada anak! Lihat anakmu sekarang! Lihat! Coba kalau kau belikan motor yang baru, bukan motor rombengan seperti itu! Hanya motor rombengan yang remnya blong! Dasar kejam! Pelit!” Pekiknya pedas.
Aku Cuma diam. Pasrah. Merasa bersalah. Takut Si Dimas jadi korban perampasan motor, malah diganti dengan kecelakaan. Ya, hanya motor rombengan yang remnya blong. Coba kalau motor baru yang kubelikan, tentu tidak begini kejadiannya. Aku mengutuki diri sendiri. Dasar bodoh!
Mobil datang. Si Dimas segera diangkat ke dalam mobil. Aku dan istriku duduk di samping Si Dimas yang dibaringkan di jok mobil. Istriku terus menangis. Dia tak mau bicara padaku. Dan kini aku tahu, untuk menyembuhkan Si Dimas, mungkin perlu berapa kali lipat dari harga motor bekas yang mencelakakan itu.
Hatiku pilu. Senja turun semakin tua. Malam menjelang mengantarkanku ke rumah sakit. Membawa penderitaan dan kesakitan Si Dimas.

Rancah, Mei 2011

Cerpen
          

MANG SODIK
Oleh Ena Rs.

TAK penah kulihat orang yang wajahnya selalu memancarkan semangat selain Mang Sodik. Tak pernah. Bahkan ketika ia sepertinya lelah, semangat itu tetap ada. Tak pernah padam. Tak pernah kulihat ada muram di wajah tirus itu. Kadang aku bertanya sendiri,  terbuat dari apa hati Mang Sodik ini sehingga pada ekspresi wajahnya yang ada hanya semangat, semangat dan semangat. Seolah dunia ini selalu menyenangkan dan menggairahkan baginya. Padahal ia bukan siapa-siapa, hanya tukang bubur ayam yang mendorong gerobak mengelilingi komplek perumahan setiap pagi. Ah, aku tak habis pikir.
Suara detingan mangkok yang ia pukul pun mengambarkan semangatnya. Ting, ting, ting... ting, ting, ting.. ritmenya khas dan segeralah orang di komplek perumahan tahu, Mang Sodik datang menjajakan bubur ayamnya. Ibu-ibu yang malas memasak pagi-pagi, segera menghambur keluar, mencegatnya.
“Mang Sodiiiikkkkk, buburrrr!”
“Iya, Buuu. Berapa mangkok?” Sahut Mang Sodik sambil menghampiri pembelinya. Suara kreot-kreot roda gerobag yang jarang diberi oli terdengar, nah, ikut bersemangat pula, semakin cepat.
“Dua mangkok saja, Mang...”
“Satu gerobak pun boleh, Bu..he he he... Ah, maap Bu, bercanda...”
Si pembeli pun ikut tertawa.
“Kasihan yang lain atuh Mang,  kalau satu gerobak saya beli semua.”
“Iya, ya, Bu. Yang lain pun selalu rindu bubur ayam Mamang tiap pagi. Ge-er saya he he he...!”
Biasanya ia terus bertanya.
“Pake kacang, Bu?”
“Sedikit saja, Mang.”
“Pedesnya?”
“Satu pedes, satu jangan...”
Pun bila pembelinya meminta ditambah ini itu.
“Ayamnya tambah lagi, Mang.”
“Boleh, Bu, tenang saja.”
“Kacangnya yang banyak, Mang.”
“Siap, Bu.”
Dan lain-lain. Ia selalu melayani pembelinya dengan semangat dan keramahannya. Tak pernah ia menolak permintaan pembelinya. Betul-betul ia menerapkan filosopi “pembeli adalah raja”. Dan ia adalah hambanya. Rasa buburnya yang khas, kental tidak cair seperti kebanyakan tukang bubur ayam. Pernah aku iseng membalikan mangkok yang berisi bubur Mang Sodik, ajaib bubur itu tidak jatuh, tetap menempel pada mangkoknya. Saking kentalnya. Kupikir daging ayamnya pun ayam kampung, bukan ayam sayur.
Setelah melayani satu pembeli, ia bergerak lagi. Mencari pembeli yang lainnya. Ting, ting, ting... ting, ting, ting. Kreot, kreot, kreot... Ia tak pernah berteriak menjajakan bubur ayamnya. Cukup dengan suara mangkok yang dipukul dan suara roda gerobaknya. Orang sudah tahu.
Gerobaknya sudah agak kusam , tapi selalu bersih. Pada kaca gerobaknya tertulis “Bubur Aya Mang Sodik, Raos Pisan”. Dulu memang tulisannya lengkap “Bubur Ayam...” Rupanya hurup “m”-nya terlepas dan tak pernah diganti lagi. Pernah aku mengomentari tulisan itu.
“Hurup “m”-nya ke mana, Mang?” Tanyaku.
“Oh, itu lepas, Pak, enggak tahu di mana. Tadinya “Ayam” tahu-tahu jadi “Aya”...he he he...” Mang Sodik geli sendiri.
“Kok tidak diganti?”
“Biar saja, Pak, kan malah jadi ciri khas. Lagi pula mau “Ayam” mau “Aya” semua orang tahu saya hanya jualan bubur ayam, bukan yang lain he he he.. “
Aku tersenyum. Iya juga, sih.
Belakangan hurup “S”-nya pun hilang. Sekarang terbaca “Bubur Aya Mang Odik”. Aku tak pernah komentar lagi. Lagi pula antara “Sodik” dan “Odik” pun mirip. Kalau saja ditanya, mungkin ia akan menjawab begini: “Engga tahu lepas di mana, Pak. Tahu-tahu jadi “Odik”. Mau “Sodik” mau “Odik” kalau mendorong gerobag ini kan orangnya ini-ini juga, bukan yang lain he he he...”
Kalau komplek perumahan sudah ia dikelilingi, biasanya ia mangkal di depan sekolah tempatku mengajar. Itu pun bila belum habis. Dan tak pernah ada sisa kalau mangkalnya di sana. Sebenarnya ia bisa saja langsung mangkal di depan sekolah, tak usah keliling komplek perumahan dulu. Tapi ia selalu menjalani rutinitas seperti itu. Lagi pula memang ibu-ibu yang malas memasak selalu menunggunya.
Mang Sodik tak pernah libur. Hari Minggu sekalipun ia tetap berdagang bubur ayam.  Berkeliling komplek perumahan. Bedanya, terakhir ia akan mangkal dekat taman di mana orang-orang banyak yang lari pagi di sana.
Pernah satu kali aku membeli bubur ayamnya di taman selepas lari pagi. Kebetulan aku menjadi pembeli terakhir. Buburnya hanya cukup untuk satu mangkok lagi. Sambil makan aku memperhatikan Mang Sodik membereskan uang hasil jualannya.
“Alhamdulillah...” Kudengar ia berguman. Lalu ia membagi uangnya menjadi tiga bagian.
Aku tergoda untuk bertanya.
“Dibagi tiga begitu, Mang?”
“Iya, Pa. Yang ini modal...” Ia memperlihatkan uang yang paling banyak. “Yang ini buat resiko dapur he he he...” Ia memperlihatkan uang yang agak sedikit. “Nah, yang ini buat nabung...” Ia memperlihatkan uang yang terahir. Kira-kira sama dengan bagian untuk resiko dapur.
“Suka nabung juga, Mang?”
“Yah, alhamdulillah, Pak. Tapi cara Mamang begini, disisakan sejak awal buat nabung. Kalau nunggu sisa belanja kebutuhan malah tidak pernah ada sisanya... Yah, sedikit-sedikit Pak, siapa tahu bisa cukup untuk ongkos naik haji he he he...” Tawanya sungguh berderai.
“Kalau Mamang berniat, apapun bisa... Tidak ada yang mustahil kalau dilakukan sungguh-sungguh...” Kataku serius. Aku tak menganggap kata-kata Mang Sodik tadi sebagai gurauan. Mungkin ia memang berniat naik haji. Siapa tahu. “Saya doakan, Mang, semoga Mamang bisa naik haji...”
“Amien.”
Sebenarnya saat itu sempat aku tercenung. Orang kecil seperti Mang Sodik kadang-kadang melakukan hal yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang. Soal menabung itu misalnya, aku sendiri selalu punya niat untuk menabung. Tapi tak pernah terlaksana. Aku tak mampu menyisihkan uang untuk menabung tiap bulan. Semua habis tersedot kebutuhan sehari-hari. Kadang-kadang malah minus. Menabung jadi angan-angan: andai nanti gaji ke-13 datang akan aku tabung sebagian, begitu selalu kuniatkan. Tapi kenyataannya, begitu gaji ke-13 datang, kebutuhan pun datang merongrong. Semua habis, tak tersisa untuk menabung. Orang seperti Mang Sodik menurutku luar biasa. Meskipun penghasilannya kecil, ternyata ia bisa. Ya, mungkin menabung itu bukan soal banyak sedikitnya uang yang dimiliki, tapi pada kekuatan niat untuk menyisihkan sebagian uang itu.
Mang Sodik terus menjalani rutinitasnya, menjadi bagian kehidupan di komplek perumahan ini. Setiap pagi ia muncul mendorong gerobak bubur ayamnya. Agaknya, tidak seorang pun di sini yang tidak pernah merasakan enaknya bubur ayam Mang Sodik.
Ada dibutuhkan. Tidak ada, kehilangan. Orang bertanya-tanya. Sekali-sekali, mungkin karena sakit atau ada keperluan mendadak, Mang Sodik kadang-kadang tidak muncul.
***
LIMA taun aku pindah tempat kerja. Selama itu aku tidak pernah bertemu dengan Mang Sodik. Kalau bukan karena mantan Kepala Sekolahku hajatan, mungkin aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan Mang Sodik.
Mengenakan batik pekalongan, aku pangling melihatnya. Wajahnya kelihatan berisi, tidak tirus lagi. Ah, wajah yang tetap memancarkan semangat dan keramahan. Masih seperti dulu. Ia yang pertama kali menyapaku.
“Masya Allah, ini Pak Nana?” Tanya. Ia menjabat tanganku dengan erat.
“Iya, Mang, masih ingat rupanya...” jawabku sambil tersenyum.
“Ya, masih ingat, gimana Pa Nana ini... Masa sama bekas pelanggan lupa..he he he...” Tawanya pun masih seperti dulu. Berderai-derai. “Mengajar di mana sekarang?”
“Jauh, Mang, di peloksok...”
“Sudah jadi kepala sekolah?”
Aku tersenyum, mengangguk.
“Alhamdulillah, Allah Maha Kuasa...”
“Masih jualan bubur ayam, Mang?”
“Masih, Pa, masih. Lha, kalau tidak jualan bubur ayam keluarga saya makan apa he he he... Tapi sekarang sudah tidak pake gerobak lagi. Mamang sudah tua...he he he...”
“Oh, buka kios?”
“Tidak juga. Sekarang pakai mobil...”
“Alhamdulillah. Allah Maha Kuasa...” Aku latah mengucapkan kata yang tadi diucapkan Mang Sodik, sekaligus terkejut. Luar biasa dari seorang tukang bubur ayam yang memakai gerobak, sekarang sudah memakai mobil. Luar biasa.
Mang Sodik tertawa.
“Yah, hasil menabung sedikit-sedikit, Pak..”
Seorang ibu yang lewat menyapa.
“Eh, Pak Haji, sama ibu?” Tanyanya.
“Enggak, sendiri saja. Ibu sama siapa?”
“Tuh!” Katanya sambil menunjuk seorang lelaki yang menuntun anak kecil. Pasti suaminya. “Mari Pak Haji, saya duluan...”
“Iya, Bu, silahkan...”
Pak Haji?
“Sekarang Mamang sudah haji?” Tanyaku. Luar biasa lagi. Lima tahun tidak bertemu Mang Sodik sudah membuat loncatan hidup yang tak pernah kubayangkan. Menjajakan bubur ayam dengan mobil. Inovasi baru itu. Lalu sekarang sudah jadi Haji pula.
Mang Sodik tersipu-sipu.
“Alhamdulillah. Allah Maha Kuasa...” Lagi-lagi aku latah. Lalu aku tersadar. “Aduh, maap, seharusnya saya tidak memanggil Mamang lagi. Pak Haji, ya sekarang Pa Haji...”
“Ah, jangan, jangan. Sebenarnya saya lebih suka dipanggil Mamang saja, tidak usah Pak atau Bapak. Apalagi pakai embel-embel Haji. Saya malah malu. Tapi ya gimana, saya tidak bisa melarang  mereka memanggil begitu...” Kata Mang Sodik.
“Tulisannya masih “Bubur Aya”?”
Mang Sodik tertawa berderai-derai.
“Ya, ya, ya, masih begitu, Pak. Tapi sekarang bukan terlepas, malah disengaja biar jadi ciri khas Mamang he he he...”
Lalu kami pun berpisah. Selama perjalanan pulang, tiba-tiba aku merasa malu sendiri dengan Mang Sodik. Ia yang tukang bubur ayam, sudah bisa naik haji, sudah bisa punya mobil. Aku yang selalu dipanggil dengan sebutan Pak, Bapak, oleh setiap orang dengan rasa hormat, tak bisa seperti Mang Sodik. Mobil aku belum mampu beli. Apalagi naik haji, entah kapan. Jadi Kepala Sekolah pun mesti sogok sana, sogok sini. Ah, aku benar-benar malu.***
Rancah, Juni 2011